Pandeglang, 9 September 2026 – Pemilik speedboat Arupadhatu 1, Sandi Wiasa, memastikan kapal yang membawa lima jurnalis bersama tiga orang lainnya menuju perairan Gunung Anak Krakatau dalam kondisi layak berlayar sebelum akhirnya dilaporkan hilang kontak. Sandi menyatakan kapal tersebut memiliki dokumen perizinan dan menjalani pemeriksaan secara berkala oleh pihak syahbandar. Speedboat juga dilengkapi jaket pelampung serta menggunakan dua mesin sebagai tenaga penggerak. Kapal bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Senin, 7 September 2026, sekitar pukul 14.00 WIB dengan membawa delapan orang. Mereka berangkat untuk melakukan peliputan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dan semula diperkirakan kembali ke Carita pada sore atau malam hari. Namun, hingga Rabu, kapal beserta seluruh orang yang berada di dalamnya belum ditemukan.
Sandi mengatakan kondisi kapal sebelum keberangkatan tidak menunjukkan adanya persoalan yang membuat perjalanan harus dibatalkan. Kapal memiliki panjang sekitar tujuh meter dengan lebar kurang lebih 2,2 meter dan menggunakan sistem double engine. Menurutnya, penggunaan dua mesin memberikan cadangan tenaga apabila salah satu mesin mengalami gangguan ketika berada di laut. Kapal tersebut juga disebut rutin digunakan untuk perjalanan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau maupun Ujung Kulon sehingga rute perairan tersebut bukan perjalanan pertama bagi armada maupun nakhodanya. Sebelum membawa rombongan jurnalis, kapal juga disebut baru digunakan untuk perjalanan dari kawasan Ujung Kulon. Berdasarkan pengalaman pengoperasian sebelumnya, pemilik menilai kondisi armada masih memadai untuk melakukan perjalanan ketika rombongan berangkat.
Terkait kelengkapan administrasi, Sandi menyebut dokumen kapal tersedia dan pemeriksaan dilakukan setiap tahun melalui mekanisme yang berkaitan dengan syahbandar. Ia juga memastikan jaket pelampung tersedia untuk digunakan penumpang selama perjalanan. Jumlah orang di dalam kapal ketika berangkat sebanyak delapan orang dan menurut pemilik masih sesuai dengan kapasitas armada. Kondisi perairan saat keberangkatan juga disebut masih tergolong normal sehingga tidak terdapat indikasi awal yang membuat perjalanan harus dihentikan. Meski demikian, keterangan mengenai kondisi kapal tersebut masih menjadi bagian dari informasi yang akan dicocokkan dengan penyelidikan dan operasi pencarian. Penyebab hilangnya komunikasi dengan rombongan sampai saat ini belum dapat dipastikan.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah sistem komunikasi yang digunakan kapal selama berada di laut. Sandi mengakui Arupadhatu 1 tidak dilengkapi perangkat radio komunikasi dan selama perjalanan komunikasi mengandalkan telepon seluler. Kapal memiliki perangkat Global Positioning System atau GPS portabel, tetapi pemilik mengaku tidak mengetahui apakah perangkat tersebut dapat digunakan untuk melacak posisi kapal setelah kehilangan kontak. Ketiadaan radio menjadi persoalan penting karena sinyal telepon seluler di perairan terbuka dapat berubah tergantung lokasi dan jangkauan jaringan. Dalam kondisi darurat, perangkat komunikasi khusus dapat membantu awak menyampaikan posisi maupun kondisi kapal kepada pihak lain. Namun, belum diketahui apakah persoalan komunikasi tersebut memiliki hubungan langsung dengan hilangnya rombongan.
Delapan orang yang berada di dalam kapal terdiri atas lima jurnalis, nakhoda, seorang anak buah kapal, dan seorang pemandu. Lima jurnalis yang masih dalam pencarian adalah M. Bagus Khoirunnas, Ari Basuki, Yudistiro Pranoto, Firman Daus, dan Donal Husni. Sementara tiga orang lainnya adalah Warta sebagai nakhoda, Sukarman sebagai anak buah kapal, serta Heriyanto yang bertugas sebagai pemandu. Mereka berangkat dari Carita dengan tujuan melakukan pengambilan gambar dan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Perjalanan dari kawasan Carita menuju Krakatau dalam kondisi normal disebut membutuhkan waktu sekitar dua jam. Karena kegiatan rombongan lebih banyak ditujukan untuk pengambilan gambar, pemilik memperkirakan mereka semestinya sudah dapat kembali ke Carita sekitar pukul 17.00 hingga 18.00 WIB.
Komunikasi dari rombongan masih sempat diterima pada Senin petang. Heriyanto sebagai pemandu dilaporkan mengirimkan foto kondisi Gunung Anak Krakatau kepada istrinya sekitar empat jam setelah kapal bertolak dari Carita. Berdasarkan keterangan pemilik, foto tersebut memperlihatkan kondisi gunung dengan cukup jelas dan diperkirakan diambil ketika kapal berada pada jarak lebih dari tiga kilometer dari kawah. Informasi mengenai komunikasi terakhir memang memiliki sejumlah catatan waktu berbeda berdasarkan laporan yang diterima petugas dan keluarga. Karena itu, tim pencarian menggunakan berbagai informasi yang tersedia untuk memperkirakan kemungkinan pergerakan kapal. Titik komunikasi dan jalur perjalanan menjadi dasar penting dalam menentukan sektor penyisiran di kawasan Selat Sunda.
Sandi mengaku baru mengetahui kapal tidak dapat dihubungi setelah mendapatkan informasi dari pihak kepolisian pada Selasa siang. Sebelumnya, ia sempat menduga rombongan mungkin memilih bermalam di salah satu pulau sekitar kawasan Krakatau untuk mendapatkan kesempatan pengambilan gambar yang lebih baik. Namun, setelah mendapat informasi bahwa komunikasi dengan rombongan benar-benar terputus, ia segera menuju kawasan Marina Carita dan berkoordinasi dengan aparat serta Basarnas. Pemilik juga melakukan pencarian informasi secara mandiri dengan menghubungi warga dan kenalannya di sejumlah wilayah. Kontak dilakukan dengan masyarakat di Pulau Sebesi hingga kawasan Lampung untuk mengetahui apakah ada nelayan atau warga yang melihat kapal tersebut. Hingga perkembangan terakhir, belum ada informasi yang memastikan keberadaan Arupadhatu 1.
Operasi SAR kemudian diperluas karena kemungkinan posisi kapal dapat berubah akibat arus dan kondisi perairan. Tim gabungan melakukan penyisiran dari Carita menuju kawasan Rakata, Pulau Panjang, Pulau Sebesi, Sebuku, Legundi, serta sejumlah sektor lain di Selat Sunda. Kapal-kapal pencarian dari Basarnas, TNI Angkatan Laut, dan Polairud dikerahkan untuk memperbesar jangkauan operasi. TNI AL juga menambah kekuatan dengan mengerahkan kapal perang untuk membantu pencarian di sektor yang lebih luas. Personel dari Banten dan Lampung bekerja dari dua sisi karena kawasan pencarian berada di perairan yang menghubungkan kedua provinsi. Nelayan setempat turut diminta memberikan informasi apabila menemukan kapal dengan ciri yang sesuai maupun benda yang diduga berkaitan dengan rombongan.
Kondisi pencarian menjadi lebih kompleks karena berlangsung ketika Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Aktivitas vulkanik masih terjadi secara intermiten dan masyarakat dilarang melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah. Gelombang, angin, dan perubahan cuaca di Selat Sunda juga menjadi faktor yang harus diperhitungkan tim pencarian. Kapolda Banten Irjen Hengki sebelumnya menyebut kondisi ombak dan angin menjadi salah satu kendala dalam operasi. Tim SAR harus memastikan pencarian dilakukan semaksimal mungkin tanpa menempatkan personel dalam risiko tambahan akibat aktivitas vulkanik maupun kondisi laut. Informasi mengenai cuaca, arus, dan aktivitas gunung karena itu terus digunakan untuk memperbarui rencana operasi dari waktu ke waktu.
Keterangan pemilik mengenai kelayakan kapal dan pemeriksaan syahbandar kini menjadi salah satu bagian penting untuk memahami kondisi Arupadhatu 1 sebelum keberangkatan. Namun, kelayakan administratif maupun kondisi mesin sebelum perjalanan belum dapat menjelaskan penyebab kapal kehilangan komunikasi dan belum kembali ke Carita. Tim SAR masih memprioritaskan pencarian terhadap delapan orang tersebut, sementara pemeriksaan mengenai aspek teknis perjalanan dapat dilakukan lebih mendalam setelah terdapat perkembangan baru. Keluarga dan rekan-rekan para jurnalis terus menunggu informasi dari posko pencarian dengan harapan seluruh rombongan dapat ditemukan dalam keadaan selamat. Petugas juga meminta masyarakat tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi karena dapat menimbulkan kebingungan selama operasi berlangsung. Hingga Rabu, pencarian terus diperluas di Selat Sunda dengan mengerahkan berbagai unsur laut dan dukungan personel gabungan untuk menemukan kapal beserta seluruh orang di dalamnya.