Jakarta, 7 September 2026 – Pemerintah Provinsi Maluku Utara terus memperluas akses promosi dan pasar bagi Wira Usaha Baru serta Industri Kecil dan Menengah agar mampu berkembang dan meningkatkan daya saing. Salah satu langkah tersebut dilakukan melalui partisipasi pelaku usaha daerah dalam Tjipta UMKM Fair yang berlangsung di Jakarta. Kegiatan ini dimanfaatkan untuk memperkenalkan berbagai produk khas Maluku Utara kepada pasar yang lebih luas sekaligus membuka peluang membangun jaringan bisnis. Pelaku usaha tidak hanya mendapatkan ruang memamerkan produknya, tetapi juga dapat mempelajari perkembangan pasar dan kebutuhan konsumen. Pemerintah daerah menilai akses seperti ini sangat diperlukan agar usaha lokal tidak hanya bertahan di pasar daerah. Produk yang memiliki kualitas dan potensi kemudian dapat diarahkan untuk menjangkau konsumen nasional. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi mendorong WUB dan IKM Maluku Utara naik kelas secara bertahap.
Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda memberikan perhatian langsung terhadap keikutsertaan pelaku usaha daerah dalam kegiatan tersebut. Pada Jumat, 4 September 2026, Sherly bersama Kepala Badan Penghubung Provinsi Maluku Utara K.R.N.S. Lestari mengunjungi stan WUB dan IKM Maluku Utara. Kehadiran gubernur menjadi bentuk dukungan pemerintah terhadap pelaku usaha yang mendapat kesempatan memperkenalkan produknya di Jakarta. Sherly menilai ruang promosi semacam itu mempunyai manfaat yang lebih luas dibandingkan sekadar transaksi selama pameran berlangsung. Pelaku usaha dapat bertemu dengan konsumen, calon mitra, hingga jaringan usaha yang berpotensi membantu pengembangan bisnis mereka. Mereka juga dapat melihat secara langsung bagaimana produk dari daerah lain dipasarkan dan dikemas. Pengalaman tersebut diharapkan memberikan gambaran mengenai langkah yang perlu dilakukan ketika ingin memasuki pasar yang lebih besar.
Tjipta UMKM Fair diikuti sebanyak 108 pelaku UMKM yang berasal dari tujuh pilar usaha dalam lingkungan Sinar Mas. Kehadiran pelaku usaha dari berbagai sektor membuat kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan antara produk, konsumen, pemerintah, dan dunia usaha. Bagi Maluku Utara, kesempatan tersebut digunakan untuk membawa identitas Kie Raha melalui produk berbasis komoditas lokal. Kenari, sagu, kopi, rempah, cengkeh, hingga cokelat menjadi sejumlah bahan yang diolah menjadi produk bernilai tambah. Pemerintah ingin kekayaan sumber daya tersebut tidak hanya diperdagangkan dalam bentuk bahan mentah. Pengolahan oleh WUB dan IKM dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih besar sekaligus menciptakan peluang kerja di daerah. Produk olahan yang memiliki identitas kuat juga dinilai mempunyai peluang lebih besar untuk dikenal konsumen di luar Maluku Utara.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Maluku Utara memfasilitasi empat pelaku usaha untuk mengikuti pameran tersebut, yakni Pakesang, Amalia Queenlove, Sulamina, dan KTH Buku Manyeku. Pakesang membawa Aer Guraka, sejumlah varian kopi, serta produk olahan berbahan kenari dan sagu. Amalia Queenlove memperkenalkan Halua Kenari, Kue Putar Mini, dan Biskuit Kenari Rempah. Sementara Sulamina menampilkan berbagai varian produk cokelat yang dikembangkan dari komoditas daerah. KTH Buku Manyeku membawa minyak cengkeh sebagai salah satu produk yang merepresentasikan kekayaan rempah Maluku Utara. Ragam produk tersebut menunjukkan bahan baku lokal dapat dikembangkan menjadi produk yang mempunyai nilai jual lebih tinggi. Pemerintah berharap inovasi serupa semakin banyak muncul dari pelaku usaha di kabupaten dan kota lainnya.
Sherly menilai pertumbuhan wirausaha baru membutuhkan ekosistem yang mampu mempertemukan pemerintah, dunia usaha, dan pelaku UMKM. Pemerintah dapat memberikan pembinaan serta membuka akses, sedangkan sektor swasta mempunyai jaringan dan pengalaman yang dapat membantu produk lokal berkembang. Pelaku usaha sendiri harus terus memperbaiki kualitas produk, kemasan, kapasitas produksi, serta strategi pemasaran. Ketiga unsur tersebut perlu berjalan bersama agar program pemberdayaan tidak berhenti setelah pelatihan atau pemberian bantuan. Akses pasar menjadi tahapan penting karena keberlanjutan sebuah usaha sangat bergantung pada kemampuan menemukan konsumen. Pemerintah Provinsi Maluku Utara karena itu ingin memperbanyak kesempatan bagi WUB dan IKM mengikuti kegiatan promosi di luar daerah. Semakin luas pasar yang dapat dijangkau, semakin besar pula kesempatan usaha lokal meningkatkan skala bisnisnya.
Kepala Disperindag Provinsi Maluku Utara M. Ronny Saleh menekankan keikutsertaan dalam pameran tidak hanya bertujuan membuat produk daerah tampil di hadapan pengunjung. Pemerintah juga ingin pelaku usaha mendapatkan pengalaman langsung mengenai kondisi pasar yang akan mereka hadapi ketika memperluas bisnis. Interaksi dengan konsumen dapat memberikan informasi mengenai selera, harga, kualitas, desain kemasan, maupun jenis produk yang paling diminati. Pelaku WUB dan IKM juga mempunyai kesempatan membangun hubungan dengan distributor, pembeli, serta pelaku usaha lainnya. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai bahan evaluasi setelah mereka kembali ke Maluku Utara. Produk yang mendapatkan respons positif dapat dikembangkan lebih lanjut, sedangkan kekurangan yang ditemukan dapat segera diperbaiki. Pendekatan tersebut diharapkan membuat proses pembinaan lebih sesuai dengan kebutuhan nyata pasar.
Pemerintah daerah menilai WUB membutuhkan pendampingan berkelanjutan karena sebagian pelakunya masih berada pada tahap awal pengembangan usaha. Tantangan mereka tidak hanya berkaitan dengan modal, tetapi juga legalitas, konsistensi produksi, pengemasan, pemasaran, dan kemampuan mengelola bisnis. Ketika usaha mulai berkembang, kebutuhan terhadap jaringan distribusi dan peningkatan kapasitas produksi juga akan semakin besar. Karena itu, fasilitasi promosi perlu berjalan bersama pembinaan pada aspek lainnya. IKM yang telah mempunyai produk lebih matang juga membutuhkan dukungan agar dapat memperluas jangkauan penjualan hingga ke luar provinsi. Pemerintah ingin setiap tahapan perkembangan usaha mempunyai bentuk pendampingan yang sesuai. Tujuan akhirnya adalah menciptakan lebih banyak pelaku usaha Maluku Utara yang mandiri dan mampu bersaing tanpa terus bergantung pada program pemerintah.
Keterlibatan dunia usaha dalam kegiatan seperti Tjipta UMKM Fair juga dinilai memperkuat model kolaborasi pengembangan ekonomi lokal. Pemerintah daerah memiliki keterbatasan apabila seluruh proses promosi dan pembukaan pasar harus dilakukan sendiri. Kerja sama dengan perusahaan dan berbagai lembaga dapat menyediakan lebih banyak ruang bagi pelaku usaha untuk bertemu konsumen. Dunia usaha juga dapat memberikan pengetahuan mengenai standar produk, pemasaran, distribusi, serta kebutuhan pasar modern. Sementara itu, WUB dan IKM membawa kreativitas serta kekayaan komoditas yang menjadi kekuatan ekonomi daerah. Kolaborasi tersebut dapat menghasilkan hubungan yang saling melengkapi apabila dilakukan secara berkelanjutan. Pemerintah berharap kesempatan mengikuti pameran tidak menjadi kegiatan sesaat, tetapi menjadi pintu awal menuju hubungan bisnis yang lebih luas.
Produk khas Kie Raha mempunyai peluang berkembang karena memiliki karakter yang berbeda dibandingkan produk dari daerah lain. Kenari, cengkeh, rempah, sagu, kopi, dan berbagai komoditas lainnya telah lama menjadi bagian dari kehidupan ekonomi dan budaya masyarakat Maluku Utara. Tantangannya adalah mengubah keunggulan tersebut menjadi produk yang mempunyai kualitas konsisten serta mampu memenuhi kebutuhan pasar modern. Penguatan merek dan cerita mengenai asal produk juga dapat menjadi nilai tambah dalam pemasaran. Konsumen saat ini tidak hanya mempertimbangkan rasa atau fungsi, tetapi juga tertarik mengetahui identitas dan proses di balik sebuah produk. WUB dan IKM dapat memanfaatkan kekayaan sejarah serta budaya Maluku Utara sebagai bagian dari strategi tersebut. Dengan pengemasan yang tepat, produk lokal berpeluang memiliki posisi yang lebih kuat ketika memasuki pasar nasional.
Pemprov Maluku Utara memastikan pembinaan dan fasilitasi promosi bagi WUB serta IKM akan terus dilanjutkan sebagai bagian dari penguatan ekonomi daerah. Pemerintah ingin pelaku usaha yang lahir dari berbagai wilayah di Maluku Utara memperoleh kesempatan berkembang menuju skala yang lebih besar. Keikutsertaan dalam Tjipta UMKM Fair menjadi salah satu langkah untuk menghubungkan produk Kie Raha dengan pasar di Jakarta dan jaringan konsumen yang lebih luas. Pengalaman selama pameran diharapkan dapat digunakan para pelaku usaha untuk mengevaluasi produk sekaligus membangun strategi pengembangan berikutnya. Akses pasar, jejaring bisnis, peningkatan kualitas, dan inovasi akan terus menjadi unsur penting dalam proses tersebut. Pemerintah juga mendorong semakin banyak kolaborasi dengan sektor swasta agar kesempatan promosi bagi usaha daerah terus bertambah. Dengan dukungan yang konsisten, WUB dan IKM Maluku Utara diharapkan mampu naik kelas serta membawa produk khas daerah semakin dikenal di tingkat nasional.