Jakarta, 5 September 2026 – Dua personel militer Amerika Serikat yang sedang menjalani masa istirahat di Thailand diamankan aparat kepolisian setempat setelah terlibat perkelahian dalam keadaan mabuk di kawasan Pattaya. Kedua personel tersebut merupakan bagian dari ribuan awak kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln yang sedang singgah di Thailand setelah menyelesaikan penugasan panjang di kawasan Timur Tengah. Insiden terjadi di sekitar Walking Street, salah satu kawasan hiburan malam paling ramai di Pattaya. Polisi turun tangan setelah menerima laporan mengenai keributan yang melibatkan personel militer AS tersebut. Keduanya kemudian diamankan untuk mencegah situasi berkembang menjadi gangguan keamanan yang lebih besar.
Insiden bermula ketika polisi menerima laporan mengenai perkelahian kecil yang melibatkan sejumlah personel militer AS di dekat Walking Street. Petugas yang berada di kawasan tersebut kemudian mendatangi lokasi untuk memeriksa situasi dan memisahkan pihak-pihak yang terlibat. Dua personel akhirnya dibawa untuk menjalani pemeriksaan setelah diduga terlibat langsung dalam keributan. Kondisi keduanya disebut berada di bawah pengaruh alkohol ketika insiden berlangsung. Aparat Thailand menangani kejadian tersebut berdasarkan ketentuan hukum setempat yang tetap berlaku terhadap seluruh personel asing selama berada di wilayah negara itu.
Kehadiran personel AS di Pattaya berkaitan dengan kunjungan kelompok tempur USS Abraham Lincoln yang tiba di Pelabuhan Laem Chabang, Provinsi Chonburi, pada Rabu, 2 September 2026. Kapal induk bertenaga nuklir tersebut membawa sekitar 5.000 pelaut dan Marinir AS yang mendapatkan kesempatan turun ke daratan untuk beristirahat. Kunjungan dijadwalkan berlangsung hingga 6 September dan difokuskan pada pemulihan kondisi awak sebelum mereka melanjutkan perjalanan pulang. Pemerintah Thailand sebelumnya menegaskan kunjungan tersebut bukan bagian dari latihan bersama ataupun operasi militer baru. Personel yang turun dari kapal diberikan kesempatan menikmati waktu istirahat setelah menjalani penugasan yang sangat panjang.
USS Abraham Lincoln tiba di Thailand setelah menjalani sekitar 286 hari penugasan di laut sejak memulai deployment pada November 2025. Hampir tujuh bulan dari periode tersebut dihabiskan dalam wilayah tanggung jawab Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM. Kelompok tempur kapal induk itu terlibat dalam operasi tempur Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, termasuk rangkaian operasi dalam konflik dengan Iran. Penugasan yang panjang membuat kunjungan ke Thailand menjadi kesempatan pertama bagi sebagian besar awak untuk menikmati port call penuh sejak keberangkatan mereka. Pimpinan kelompok tempur menyebut masa istirahat tersebut dibutuhkan agar para pelaut dan Marinir dapat memulihkan kondisi setelah berbulan-bulan berada di laut.
Lamanya penugasan USS Abraham Lincoln sebelumnya juga menimbulkan perhatian mengenai kondisi para awak. Sejumlah laporan menyoroti tekanan psikologis, keterbatasan pasokan makanan segar, serta berbagai persoalan kehidupan sehari-hari selama kapal berada di laut dalam waktu sangat panjang. Kondisi tersebut membuat kesempatan beristirahat di Thailand dipandang penting sebelum personel kembali ke Amerika Serikat. Pattaya dipilih sebagai salah satu lokasi utama yang dikunjungi karena berada relatif dekat dengan Pelabuhan Laem Chabang. Ribuan awak kapal kemudian menyebar ke berbagai kawasan wisata, pusat perbelanjaan, restoran, dan tempat hiburan selama periode istirahat.
Pemerintah Thailand sebenarnya telah mempersiapkan pengamanan khusus menjelang kedatangan ribuan personel militer AS. Kepolisian meningkatkan patroli di kawasan Pattaya, sedangkan polisi militer Amerika Serikat turut melakukan pengawasan terhadap personelnya. Otoritas Thailand juga mengingatkan seluruh awak bahwa mereka wajib mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku selama berada di negara tersebut. Sejumlah pembatasan bahkan telah disampaikan sebelum mereka turun ke daratan, termasuk larangan melakukan aktivitas tertentu yang dianggap berisiko. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keamanan sekaligus mencegah insiden yang dapat mengganggu masyarakat maupun hubungan kedua negara.
Walking Street menjadi salah satu kawasan yang mendapatkan perhatian besar karena dikenal sebagai pusat hiburan malam Pattaya dan banyak dikunjungi wisatawan asing. Aktivitas di kawasan tersebut berlangsung hingga larut malam dengan banyak bar, restoran, klub, serta tempat hiburan beroperasi di sepanjang jalan. Kehadiran ribuan personel dari kelompok tempur USS Abraham Lincoln meningkatkan jumlah pengunjung secara signifikan selama beberapa hari. Aparat karena itu menempatkan personel tambahan untuk mengantisipasi gangguan ketertiban, termasuk perkelahian akibat konsumsi alkohol. Insiden yang melibatkan dua personel militer AS menjadi salah satu kejadian yang kemudian membutuhkan intervensi langsung polisi.
Kunjungan USS Abraham Lincoln sendiri mendapatkan sambutan cukup besar dari pelaku usaha di Pattaya. Ribuan awak kapal diperkirakan memberikan tambahan aktivitas ekonomi bagi hotel, restoran, transportasi, pusat perbelanjaan, dan berbagai usaha pariwisata. Kota tersebut memiliki sejarah panjang menerima kunjungan personel Angkatan Laut Amerika Serikat sejak beberapa dekade lalu. Pemerintah daerah berharap kedatangan ribuan awak dapat membantu aktivitas sektor pariwisata yang menghadapi tekanan akibat berbagai kondisi ekonomi global. Namun, manfaat ekonomi tersebut tetap harus berjalan beriringan dengan pengawasan keamanan dan kepatuhan terhadap peraturan lokal.
Thailand dan Amerika Serikat juga memiliki hubungan pertahanan yang telah berlangsung lama. Kedua negara rutin terlibat dalam berbagai bentuk kerja sama, termasuk latihan Cobra Gold dan kunjungan kapal militer. Meski demikian, pemerintah Thailand menegaskan kedatangan USS Abraham Lincoln kali ini semata-mata merupakan kunjungan pelabuhan untuk memberikan waktu istirahat kepada awak. Tidak ada latihan bersama maupun kegiatan operasional yang dijadwalkan selama kapal berada di Laem Chabang. Penegasan tersebut juga diberikan karena USS Abraham Lincoln baru menyelesaikan penugasan yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah sehingga kedatangannya sempat memunculkan berbagai spekulasi.
Kasus dua personel militer AS yang diamankan di Pattaya kini menjadi pengingat bahwa seluruh awak kapal tetap tunduk pada aturan Thailand selama berada di daratan. Insiden tersebut terjadi di tengah masa istirahat ribuan personel setelah menjalani salah satu penugasan terpanjang USS Abraham Lincoln dalam beberapa tahun terakhir. Aparat Thailand dan polisi militer AS akan tetap meningkatkan pengawasan sampai periode kunjungan berakhir pada 6 September 2026. Sementara itu, sebagian besar awak diharapkan dapat memanfaatkan waktu di Pattaya untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan menuju Amerika Serikat. Setelah hampir sembilan bulan menjalani deployment dan berbulan-bulan terlibat dalam operasi di Timur Tengah, kelompok tempur USS Abraham Lincoln dijadwalkan bergerak pulang setelah menyelesaikan kunjungan di Thailand.