Jakarta, 18 September 2026 – Kementerian Kesehatan mengungkap masalah gigi berlubang atau karies masih banyak ditemukan pada anak usia sekolah di Indonesia. Hasil pemeriksaan melalui program Cek Kesehatan Gratis menunjukkan sekitar 41 persen anak sekolah yang diperiksa mengalami karies, atau setara dengan sekitar empat dari setiap 10 anak. Temuan tersebut membuat kesehatan gigi dan mulut menjadi salah satu perhatian dalam pelaksanaan pemeriksaan kesehatan anak. Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan pemeriksaan gigi telah menjadi salah satu prioritas dalam program CKG. Pemerintah ingin masalah gigi dapat diketahui sejak dini sebelum berkembang menjadi keluhan yang lebih berat. Pendekatan promotif dan preventif pun didorong dengan menjadikan sekolah sebagai salah satu pusat pembentukan kebiasaan menjaga kesehatan gigi.
Dante menyampaikan data tersebut saat menghadiri pembukaan Bulan Kesehatan Gigi Nasional 2026 di SDN Menteng 01, Jakarta, Kamis, 17 September 2026. Menurutnya, karies menjadi masalah yang paling banyak ditemukan dalam pemeriksaan CKG anak sekolah. Angka 41 persen tersebut merujuk pada anak sekolah yang telah diperiksa melalui program CKG, sehingga tidak berarti empat dari 10 seluruh anak Indonesia telah didiagnosis secara individual dalam satu waktu yang sama. Data Kemenkes hingga Agustus 2026 sebelumnya juga menunjukkan karies sebagai temuan kesehatan tertinggi pada peserta CKG sekolah dengan angka sekitar 40,9 persen. Pada periode tersebut, program CKG telah melayani sekitar 15,2 juta siswa dari target 50 juta anak sekolah. Temuan itu memberikan gambaran mengenai besarnya kebutuhan pencegahan dan tindak lanjut masalah kesehatan gigi pada kelompok usia sekolah.
Kemenkes menilai masalah gigi tidak seharusnya baru mendapatkan perhatian ketika anak sudah mengalami rasa sakit. Pemeriksaan rutin dianjurkan dilakukan setiap enam bulan agar perubahan atau kerusakan pada gigi dapat ditemukan lebih awal. Deteksi dini memberikan kesempatan untuk melakukan tindakan sebelum karies berkembang menjadi kerusakan yang lebih berat. Pemerintah juga ingin mengubah kebiasaan masyarakat yang cenderung mendatangi layanan kesehatan gigi setelah muncul keluhan. Pendekatan pencegahan dinilai lebih efektif apabila diterapkan sejak anak masih berada di bangku sekolah. Karena itu, pemeriksaan berkala perlu berjalan bersamaan dengan edukasi mengenai cara merawat gigi dan mulut dalam kehidupan sehari-hari.
Sekolah dipilih sebagai salah satu titik penting karena mempunyai berbagai kegiatan yang dapat digunakan untuk membangun kebiasaan sehat. Unit Kesehatan Sekolah, dokter kecil, kegiatan pramuka, hingga program edukasi dapat dilibatkan untuk mengenalkan perawatan gigi secara sederhana. Anak-anak dapat diajarkan cara menyikat gigi yang benar, memilih makanan yang lebih baik untuk kesehatan gigi, serta memahami fungsi pasta gigi berfluoride. Edukasi yang dilakukan secara rutin diharapkan membuat kebiasaan tersebut tidak hanya dilakukan ketika terdapat program pemeriksaan. Kemenkes juga mendorong agar anak memahami bahwa kesehatan gigi merupakan bagian dari kesehatan tubuh secara keseluruhan. Pembentukan perilaku sejak usia sekolah diharapkan membuat kebiasaan menjaga gigi bertahan hingga dewasa.
Salah satu gagasan yang disampaikan Dante adalah melibatkan murid sebagai “detektif gigi berlubang” di lingkungan sekolah. Anak-anak yang aktif dalam kegiatan kesehatan sekolah dapat membantu mengenali tanda-tanda masalah gigi pada teman-temannya. Konsep tersebut bukan untuk menggantikan pemeriksaan profesional oleh dokter gigi, melainkan mendorong kesadaran agar masalah yang terlihat dapat segera disampaikan kepada guru, orang tua, atau petugas kesehatan. Sekolah dengan demikian dapat menjadi tempat deteksi awal sebelum anak memperoleh pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. Pendekatan antarteman juga diharapkan membuat edukasi mengenai kesehatan gigi terasa lebih dekat dengan keseharian siswa. Pemeriksaan dan diagnosis tetap harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi sesuai kebutuhan anak.
Kemenkes turut mengingatkan pentingnya waktu menyikat gigi yang tepat sebagai bagian dari pencegahan karies. Anak dianjurkan menyikat gigi setelah sarapan dan sebelum tidur malam. Kebiasaan tersebut perlu disertai teknik menyikat yang benar sehingga seluruh permukaan gigi dapat dibersihkan secara memadai. Pemilihan makanan juga perlu diperhatikan karena pola konsumsi merupakan salah satu bagian penting dalam menjaga kesehatan gigi. Orang tua mempunyai peran besar dalam memastikan kebiasaan tersebut diterapkan secara konsisten di rumah. Sementara itu, sekolah dapat memperkuat edukasi dan memberikan pengingat agar perilaku menjaga kebersihan gigi menjadi bagian dari rutinitas anak.
Masalah karies tidak sebaiknya dianggap ringan karena kerusakan dapat berkembang apabila tidak memperoleh penanganan. Karies terjadi ketika lapisan keras gigi mengalami kerusakan hingga membentuk lubang dan dapat mengenai gigi susu maupun gigi permanen yang baru tumbuh. Pada anak, tanda yang dapat muncul antara lain bintik putih, cokelat atau hitam pada gigi, lubang yang terlihat, nyeri ketika mengunyah atau mengonsumsi makanan dan minuman tertentu, serta bau mulut. Pada kondisi tertentu, gusi di sekitar gigi yang bermasalah juga dapat mengalami pembengkakan atau kemerahan. Karies yang tidak ditangani dapat menimbulkan nyeri, infeksi, hingga kerusakan gigi lebih lanjut. Pemeriksaan oleh dokter gigi diperlukan untuk menentukan perawatan yang sesuai dengan tingkat kerusakannya.
Upaya tersebut juga menjadi bagian dari penyelenggaraan Bulan Kesehatan Gigi Nasional 2026 yang mengangkat tema “Gigi Kuat, Senyum Sehat, Indonesia Hebat”. Program tahun ini membawa subtema “Periksa, Tindak Lanjut, Jaga Kesehatan Gigi dan Mulut” untuk menekankan bahwa pemeriksaan perlu diikuti perawatan serta perubahan kebiasaan. Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Kemenkes dengan PB Persatuan Dokter Gigi Indonesia, Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia, Asosiasi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Indonesia, serta mitra lainnya. Penyelenggaraan BKGN telah berlangsung sejak 2010 dan pada 2026 memasuki pelaksanaan ke-17. Kick-off di SDN Menteng 01 diisi dengan edukasi, pemeriksaan gigi gratis, dan praktik menyikat gigi bersama. Kegiatan tersebut diharapkan memperluas kesadaran mengenai pentingnya perawatan sejak usia sekolah.
Program CKG sendiri pada 2026 mulai memberikan perhatian lebih besar terhadap tindak lanjut setelah masalah kesehatan ditemukan. Pemerintah menegaskan pemeriksaan tidak dimaksudkan berhenti pada proses skrining, tetapi dilanjutkan dengan edukasi, pengobatan, pemantauan, maupun rujukan sesuai kebutuhan. Kemenkes sebelumnya mencatat pelaksanaan CKG secara nasional telah mencapai 73,8 juta peserta hingga 31 Juli 2026, dengan 11,1 juta di antaranya merupakan anak sekolah. Pada Agustus, data khusus CKG anak sekolah yang disampaikan Kemenkes menunjukkan cakupan sekitar 15,2 juta siswa. Perbedaan angka tersebut berkaitan dengan waktu pencatatan yang berbeda seiring program terus berjalan. Besarnya jumlah peserta membuat hasil CKG menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk mengidentifikasi masalah kesehatan yang banyak ditemukan pada masyarakat, termasuk karies pada anak sekolah.
Temuan sekitar empat dari 10 anak sekolah mengalami gigi berlubang pada akhirnya menjadi pengingat bahwa perawatan gigi perlu dimulai sebelum rasa sakit muncul. Pemeriksaan setiap enam bulan, menyikat gigi setelah sarapan dan sebelum tidur, penggunaan pasta gigi berfluoride, serta pemilihan makanan yang mendukung kesehatan gigi menjadi sejumlah langkah yang didorong Kemenkes. Sekolah juga diharapkan mengambil peran lebih aktif melalui UKS dan berbagai kegiatan edukasi, sementara orang tua memastikan kebiasaan tersebut berlanjut di rumah. Apabila ditemukan lubang, nyeri, pembengkakan, atau keluhan lain, anak perlu mendapatkan pemeriksaan tenaga kesehatan agar penanganannya sesuai dengan kondisi gigi. Pemerintah pada saat yang sama mendorong hasil pemeriksaan CKG ditindaklanjuti dan tidak hanya berhenti sebagai data skrining. Dengan pencegahan dan pemeriksaan sejak dini, kerusakan gigi pada anak diharapkan dapat ditemukan dan ditangani sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih berat.