Jakarta, 7 November 2026 – Stevia semakin banyak digunakan sebagai alternatif pemanis pengganti gula karena memiliki rasa manis tinggi dengan kandungan kalori yang sangat rendah. Pemanis yang berasal dari tanaman Stevia rebaudiana ini sering ditemukan dalam minuman rendah gula, makanan diet, dan produk khusus bagi masyarakat yang ingin mengurangi asupan gula. Meski dianggap aman apabila digunakan sesuai ketentuan, konsumsi stevia tetap memiliki batas yang perlu diperhatikan. Jumlah yang dianjurkan bergantung pada berat badan dan jenis senyawa pemanis yang terkandung dalam produk.
Batas asupan harian yang dapat diterima atau acceptable daily intake (ADI) untuk steviol glikosida adalah 4 miligram per kilogram berat badan setiap hari, dihitung sebagai ekuivalen steviol. Angka tersebut digunakan sebagai acuan keamanan konsumsi jangka panjang, bukan batas yang langsung menyebabkan keracunan apabila terlampaui sesekali. Steviol glikosida merupakan kelompok senyawa yang memberikan rasa manis pada stevia, termasuk steviosida dan rebaudiosida. Karena tingkat kemanisannya jauh lebih tinggi dibandingkan gula biasa, jumlah yang dibutuhkan untuk memberikan rasa manis relatif kecil.
Perhitungan batas konsumsi stevia dapat dilakukan dengan mengalikan berat badan seseorang dengan angka 4 miligram. Sebagai contoh, seseorang dengan berat badan 50 kilogram memiliki batas ADI sebesar 200 miligram ekuivalen steviol per hari. Jika berat badan mencapai 60 kilogram, jumlahnya menjadi 240 miligram, sedangkan individu dengan berat badan 70 kilogram memiliki batas 280 miligram. Untuk berat badan 80 kilogram, nilai ADI mencapai 320 miligram ekuivalen steviol setiap hari. Perhitungan ini berlaku untuk total asupan dari berbagai makanan dan minuman yang mengandung steviol glikosida.
Namun, angka hasil perhitungan tersebut tidak boleh langsung disamakan dengan berat bubuk stevia atau jumlah pemanis dalam satu saset. Produk komersial dapat mengandung berbagai jenis steviol glikosida dengan komposisi berbeda, bahkan dicampur bahan lain seperti eritritol atau dekstrosa. Sebagai gambaran, 200 miligram ekuivalen steviol setara dengan sekitar 500 miligram steviosida murni karena faktor konversinya mendekati 0,4. Oleh sebab itu, konsumen perlu membaca informasi komposisi pada kemasan untuk mengetahui jumlah zat pemanis yang sebenarnya dikonsumsi. FAR_A540_Steviol_glycosides.doc+1
Stevia yang telah dimurnikan dan memenuhi standar keamanan pangan secara umum dapat digunakan sebagai alternatif gula dalam pola makan sehari-hari. Meski demikian, penggunaan pemanis rendah kalori bukan berarti seseorang bebas mengonsumsi makanan dan minuman manis secara berlebihan. Pola makan seimbang tetap diperlukan untuk menjaga kesehatan metabolisme dan mengendalikan asupan energi. Konsumen juga perlu memperhatikan kandungan bahan tambahan dalam produk yang menggunakan stevia. Bagi individu dengan kondisi kesehatan tertentu, konsultasi dengan tenaga medis dapat membantu menentukan pilihan pemanis yang sesuai.
Batas konsumsi stevia yang aman pada akhirnya ditentukan oleh berat badan, jenis steviol glikosida, dan jumlah total yang dikonsumsi setiap hari. Patokan 4 miligram per kilogram berat badan dalam bentuk ekuivalen steviol dapat digunakan sebagai dasar perhitungan, tetapi harus diterapkan sesuai kandungan produk. Angka tersebut juga telah dikonfirmasi kembali dalam evaluasi keamanan internasional pada 2026. Dengan memahami cara menghitungnya dan membaca label secara cermat, masyarakat dapat menggunakan stevia secara lebih bijaksana. Pengurangan kebiasaan mengonsumsi makanan terlalu manis tetap menjadi bagian penting dari pola hidup sehat. JECFA