Jakarta, 29 September 2026 –
Memberikan hadiah kepada diri sendiri atau self-reward sering dilakukan setelah seseorang menyelesaikan pekerjaan, mencapai target, maupun melewati periode yang melelahkan. Namun, sebagian perempuan justru dapat merasakan bersalah setelah membeli barang, beristirahat, pergi berlibur, atau melakukan sesuatu yang ditujukan untuk dirinya sendiri. Perasaan tersebut dapat muncul meskipun aktivitas yang dilakukan masih sesuai kemampuan finansial dan tidak mengganggu tanggung jawab utama. Dalam psikologi, respons seperti ini dapat berkaitan dengan cara seseorang memandang kebutuhan pribadi, tanggung jawab, dan kelayakan dirinya menerima sesuatu.
Salah satu faktor yang dapat berperan adalah kecenderungan menempatkan kebutuhan orang lain sebelum kebutuhan pribadi. Perempuan dalam berbagai lingkungan sosial kerap menghadapi ekspektasi untuk menjadi pihak yang merawat, membantu, dan memperhatikan kebutuhan keluarga maupun orang-orang di sekitarnya. Ketika waktu atau uang digunakan untuk diri sendiri, sebagian orang kemudian mempertanyakan apakah sumber daya tersebut seharusnya diberikan untuk kebutuhan lain. Konflik antara kebutuhan pribadi dan tanggung jawab yang dirasakan inilah yang dapat memunculkan rasa bersalah.
Pengalaman sejak kecil juga dapat membentuk cara seseorang memandang uang dan kesenangan pribadi. Individu yang tumbuh dalam keluarga dengan kondisi finansial terbatas, misalnya, mungkin terbiasa menganggap pengeluaran di luar kebutuhan pokok sebagai sesuatu yang harus dihindari. Pola pikir tersebut dapat bertahan ketika kondisi ekonomi sudah berubah. Akibatnya, membeli sesuatu sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri tetap dapat menimbulkan ketidaknyamanan karena dianggap bertentangan dengan kebiasaan lama.
Rasa bersalah juga bisa muncul pada perempuan dengan kecenderungan perfeksionisme atau standar pencapaian yang tinggi. Mereka mungkin merasa belum cukup bekerja keras, belum mencapai target tertentu, atau masih memiliki banyak tanggung jawab sebelum dianggap pantas menikmati hadiah. Dalam kondisi tersebut, self-reward tidak lagi dinilai berdasarkan kemampuan dan kebutuhan, melainkan berdasarkan standar pribadi yang terus meningkat. Akibatnya, pencapaian yang sebenarnya layak diapresiasi terasa belum pernah benar-benar cukup.
Faktor lain yang berpengaruh adalah cara masyarakat memandang produktivitas. Istirahat terkadang dianggap sebagai kegiatan yang kurang produktif, sedangkan bekerja terus-menerus diasosiasikan dengan kedisiplinan dan keberhasilan. Pandangan seperti ini dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman ketika menghabiskan waktu tanpa menghasilkan sesuatu yang terlihat. Padahal, waktu untuk beristirahat dan melakukan aktivitas menyenangkan dapat menjadi bagian dari pemulihan fisik maupun emosional setelah menghadapi tekanan.
Meski demikian, self-reward tidak selalu harus berupa pembelian barang mahal atau pengeluaran besar. Bentuk penghargaan terhadap diri sendiri dapat berupa tidur yang cukup, menikmati makanan favorit, membaca buku, melakukan hobi, berjalan santai, atau menyediakan waktu tanpa pekerjaan. Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah bentuk penghargaan tersebut sesuai dengan kondisi finansial dan tidak digunakan sebagai satu-satunya cara menghadapi stres. Menentukan batas pengeluaran dan membedakan antara kebutuhan, keinginan, serta keputusan impulsif juga dapat membantu mengurangi penyesalan setelahnya.
Rasa bersalah sesekali setelah melakukan self-reward tidak otomatis menunjukkan adanya masalah psikologis. Namun, apabila perasaan tersebut terus muncul sampai membuat seseorang sulit beristirahat, mengabaikan kebutuhan dasar, atau merasa dirinya tidak pernah pantas mendapatkan sesuatu, pola pikir yang mendasarinya dapat dievaluasi lebih jauh. Menghargai pencapaian dan menyediakan waktu untuk diri sendiri dapat ditempatkan sebagai bagian dari keseimbangan hidup, bukan sebagai tindakan egois. Dengan batas yang sehat, self-reward dapat menjadi salah satu cara mengakui usaha diri tanpa mengabaikan tanggung jawab lainnya.