Jakarta, 13 September 2026 – Pemerintah Nepal mulai menjalankan tahap pemulihan di sejumlah wilayah yang terdampak banjir besar setelah operasi darurat berlangsung di tengah kerusakan luas pada permukiman dan infrastruktur. Ribuan orang masih dilaporkan hilang sehingga pencarian tetap dilakukan bersamaan dengan upaya membersihkan kawasan terdampak dan memulihkan layanan dasar. Tim penyelamat menghadapi kondisi lapangan yang sulit karena sejumlah jalan, jembatan, dan jalur menuju permukiman mengalami kerusakan. Material lumpur dan puing menutup berbagai akses sehingga alat berat mulai dikerahkan untuk membantu proses pembersihan. Pemerintah juga berupaya memastikan masyarakat yang kehilangan tempat tinggal memperoleh kebutuhan dasar selama proses pemulihan berlangsung. Besarnya skala bencana membuat penanganan diperkirakan membutuhkan waktu panjang sebelum aktivitas masyarakat dapat sepenuhnya kembali normal.
Banjir menerjang setelah hujan deras meningkatkan debit sungai dan menyebabkan air meluap menuju kawasan permukiman. Sejumlah wilayah mengalami genangan dalam waktu relatif cepat sehingga warga memiliki waktu terbatas untuk menyelamatkan diri maupun barang berharga. Arus kuat membawa lumpur, kayu, kendaraan, dan berbagai material lainnya hingga merusak bangunan yang berada di jalurnya. Beberapa kawasan juga mengalami longsor yang semakin mempersulit akses tim penyelamat. Kondisi geografis Nepal yang didominasi pegunungan membuat hujan ekstrem dapat memberikan dampak berbeda pada setiap wilayah. Air dari kawasan lebih tinggi dapat bergerak cepat menuju lembah dan meningkatkan risiko banjir bandang.
Operasi pencarian terhadap warga yang belum ditemukan tetap menjadi salah satu prioritas utama. Tim penyelamat menyisir permukiman, bantaran sungai, serta kawasan yang tertutup material banjir untuk mencari kemungkinan korban. Data orang hilang terus diperbarui karena komunikasi dengan sejumlah wilayah sempat terputus setelah bencana. Dalam situasi seperti itu, seseorang yang awalnya dilaporkan hilang dapat kemudian ditemukan berada di tempat pengungsian atau wilayah lain. Pemerintah karena itu melakukan pencocokan data untuk mendapatkan jumlah korban yang lebih akurat. Keluarga juga diminta melaporkan apabila anggota yang sebelumnya tidak diketahui keberadaannya telah ditemukan.
Pada saat bersamaan, proses pemulihan mulai dilakukan di kawasan yang kondisi airnya telah surut. Warga bersama petugas membersihkan lumpur dari rumah, jalan, sekolah, tempat usaha, dan fasilitas umum. Alat berat digunakan untuk memindahkan material berukuran besar yang tidak dapat ditangani secara manual. Pemerintah memprioritaskan pembukaan akses jalan agar kendaraan bantuan dapat menjangkau daerah yang sebelumnya terisolasi. Jaringan listrik dan komunikasi juga diperiksa sebelum kembali digunakan untuk menghindari risiko keselamatan. Pemulihan layanan dasar menjadi penting agar masyarakat dapat secara bertahap kembali menjalankan aktivitas sehari-hari.
Ketersediaan air bersih menjadi persoalan penting setelah banjir karena sumber air dapat tercemar lumpur maupun berbagai material lainnya. Pemerintah dan organisasi kemanusiaan berupaya menyediakan air minum serta fasilitas sanitasi bagi warga terdampak. Masyarakat diingatkan tidak langsung menggunakan air dari sumber yang terkontaminasi tanpa melalui proses pengolahan. Risiko penyakit dapat meningkat apabila lingkungan pengungsian memiliki sanitasi yang buruk dan akses air bersih terbatas. Anak-anak, lansia, dan masyarakat dengan kondisi tertentu membutuhkan perhatian lebih besar. Layanan kesehatan bergerak diperlukan untuk menjangkau kawasan yang fasilitas medisnya terdampak.
Kerusakan infrastruktur menjadi salah satu tantangan terbesar dalam tahap pemulihan. Jembatan yang rusak dapat memutus hubungan antardesa, sementara jalan yang tertutup longsor membuat distribusi bantuan harus menggunakan rute alternatif. Pemerintah perlu melakukan pemeriksaan teknis sebelum membuka kembali infrastruktur yang terkena banjir. Bangunan yang terlihat masih berdiri juga dapat mengalami kerusakan struktur akibat terjangan air dan material. Warga diminta berhati-hati sebelum kembali menempati rumah yang terdampak berat. Penilaian keamanan diperlukan untuk mengurangi risiko kecelakaan setelah bencana.
Sektor pertanian turut menghadapi dampak besar karena banjir merendam lahan dan merusak tanaman. Bagi masyarakat pedesaan Nepal, kehilangan hasil pertanian dapat berdampak langsung terhadap pendapatan maupun ketersediaan pangan keluarga. Endapan lumpur juga dapat mengubah kondisi lahan sehingga petani membutuhkan waktu sebelum kembali melakukan penanaman. Kerusakan saluran irigasi semakin memperbesar tantangan pemulihan sektor tersebut. Pemerintah perlu menghitung kerugian untuk menentukan bentuk dukungan yang dibutuhkan masyarakat. Bantuan benih, peralatan, dan pemulihan jaringan irigasi dapat menjadi bagian dari program setelah kondisi darurat teratasi.
Bencana tersebut kembali menyoroti kerentanan Nepal terhadap cuaca ekstrem, banjir, dan tanah longsor. Topografi pegunungan membuat banyak permukiman berada di kawasan dengan risiko bencana yang tinggi. Pembangunan infrastruktur dan permukiman perlu mempertimbangkan perubahan pola hujan serta kemungkinan peningkatan kejadian cuaca ekstrem. Sistem peringatan dini dapat membantu masyarakat mendapatkan waktu lebih banyak untuk melakukan evakuasi. Namun, informasi harus mampu menjangkau desa terpencil yang memiliki keterbatasan jaringan komunikasi. Jalur dan lokasi evakuasi juga perlu dipersiapkan sebelum musim hujan tiba.
Pemulihan jangka panjang diperkirakan membutuhkan dukungan anggaran besar karena pemerintah harus menangani kebutuhan masyarakat sekaligus memperbaiki infrastruktur. Prioritas pertama tetap pada keselamatan, kebutuhan dasar, dan pembukaan akses menuju wilayah terdampak. Setelah itu, proses rekonstruksi dapat diarahkan untuk membangun kembali fasilitas dengan standar ketahanan yang lebih baik terhadap bencana. Pendataan kerusakan diperlukan agar bantuan dapat disalurkan secara tepat. Pemerintah juga perlu memastikan keluarga yang kehilangan rumah mendapatkan tempat tinggal sementara. Transparansi dalam distribusi bantuan menjadi penting ketika kebutuhan masyarakat sangat besar.
Dimulainya pemulihan di Nepal belum menandakan berakhirnya keadaan darurat karena ribuan orang masih dilaporkan belum diketahui keberadaannya. Pencarian korban terus berjalan bersamaan dengan pembersihan wilayah, pembukaan jalan, pemulihan listrik, serta distribusi air bersih dan kebutuhan dasar. Pemerintah menghadapi tantangan besar akibat luasnya kerusakan dan sulitnya akses menuju sejumlah kawasan. Data korban juga terus diperbarui untuk memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai dampak bencana. Setelah fase darurat selesai, perhatian akan beralih pada rekonstruksi rumah, infrastruktur, fasilitas publik, dan pemulihan mata pencaharian. Bencana tersebut menjadi pengingat pentingnya memperkuat kesiapsiagaan Nepal menghadapi banjir dan cuaca ekstrem yang dapat kembali terjadi pada masa mendatang.