Jakarta, 26 Oktober 2026 – Pola pengasuhan yang mengandalkan bentakan, ancaman, dan hukuman fisik kembali menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi perkembangan perilaku anak. Pendekatan tersebut kerap disebut masyarakat sebagai pola asuh ‘VOC’, istilah populer yang menggambarkan cara mendidik anak secara keras dan otoriter. Meski sebagian orang tua menganggap metode tersebut efektif untuk membentuk kedisiplinan, para ahli psikologi mengingatkan adanya risiko terhadap kesehatan emosional anak. Salah satu dampak yang perlu diwaspadai adalah kecenderungan anak meniru perilaku kasar yang sering mereka lihat di lingkungan keluarga.
Psikolog klinis anak, remaja, dan keluarga Roslina Verauli menjelaskan bahwa anak mempelajari berbagai bentuk perilaku melalui proses pengamatan dan peniruan. Dalam kehidupan sehari-hari, orang tua menjadi salah satu figur utama yang dijadikan contoh oleh anak. Ketika orang dewasa terbiasa menggunakan kemarahan atau kekerasan untuk menyelesaikan persoalan, anak berpotensi menganggap tindakan tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Kebiasaan itu dapat terbawa ketika anak berinteraksi dengan teman sebaya maupun anggota keluarga lainnya. Oleh karena itu, cara orang tua mengelola konflik memiliki peran penting dalam membentuk perilaku sosial anak.
Pola asuh VOC umumnya dikaitkan dengan tuntutan kepatuhan mutlak tanpa memberikan kesempatan kepada anak untuk menyampaikan pendapat. Dalam pendekatan tersebut, orang tua cenderung menetapkan aturan secara sepihak dan memberikan hukuman ketika anak melakukan kesalahan. Anak mungkin terlihat patuh karena takut menghadapi konsekuensi yang tidak menyenangkan. Namun, kepatuhan yang muncul akibat rasa takut belum tentu menunjukkan bahwa anak memahami alasan suatu aturan. Kondisi ini dapat menghambat proses pembelajaran mengenai tanggung jawab dan pengendalian diri.
Hukuman fisik juga tidak selalu menghasilkan perubahan perilaku yang diharapkan. Ketika anak dipukul atau dibentak, respons yang muncul dapat berupa tangisan, ketakutan, atau sikap diam untuk menghindari hukuman berikutnya. Situasi tersebut berbeda dengan proses pembelajaran yang membantu anak memahami kesalahan dan memperbaiki tindakannya. Jika hukuman keras dilakukan secara berulang, anak berisiko mengalami tekanan emosional yang memengaruhi hubungan dengan orang tua. Dalam jangka panjang, pengalaman tersebut dapat berhubungan dengan kesulitan mengatur emosi maupun meningkatnya perilaku agresif.
Perilaku kasar pada anak dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari membentak, mengejek, mendorong, hingga memukul orang lain. Anak yang sering menyaksikan kekerasan berpotensi menggunakan tindakan serupa ketika menghadapi konflik atau merasa frustrasi. Hal ini berkaitan dengan proses pembelajaran sosial, yakni ketika seseorang mempelajari perilaku melalui pengamatan terhadap tindakan orang lain. Namun, tidak semua anak yang tumbuh dalam keluarga dengan pengasuhan keras akan menunjukkan perilaku agresif. Faktor temperamen, hubungan sosial, pengalaman di sekolah, dan dukungan emosional turut memengaruhi perkembangan masing-masing anak.
Selain meningkatkan risiko perilaku agresif, pengasuhan yang terlalu keras juga dapat memengaruhi rasa aman anak dalam lingkungan keluarga. Anak mungkin menjadi enggan menceritakan masalah karena khawatir mendapat kemarahan atau hukuman. Akibatnya, komunikasi antara orang tua dan anak dapat mengalami hambatan. Sebagian anak menunjukkan respons berupa perilaku melawan, sementara yang lain justru menjadi lebih tertutup atau mudah merasa cemas. Perbedaan respons tersebut menunjukkan bahwa dampak pola asuh tidak selalu terlihat dalam bentuk perilaku kasar secara langsung.
Meski demikian, penerapan disiplin tetap diperlukan untuk membantu anak memahami aturan dan batasan perilaku. Orang tua dapat bersikap tegas tanpa harus menggunakan kekerasan fisik maupun verbal. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah menjelaskan alasan suatu aturan dengan bahasa yang sesuai usia anak. Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua dapat memberikan konsekuensi yang masuk akal dan berkaitan dengan tindakan tersebut. Cara ini membantu anak memahami hubungan antara perilaku dan tanggung jawab tanpa menjadikan ketakutan sebagai dasar kepatuhan.
Keteladanan orang tua juga menjadi bagian penting dalam mencegah munculnya perilaku agresif. Anak perlu melihat contoh nyata mengenai cara menyampaikan kemarahan, menyelesaikan perbedaan pendapat, dan meminta maaf setelah melakukan kesalahan. Ketika orang tua mampu mengendalikan emosi dalam situasi sulit, anak memperoleh gambaran bahwa konflik dapat diselesaikan tanpa kekerasan. Komunikasi dua arah juga membantu anak merasa dihargai dan lebih terbuka dalam menyampaikan perasaannya. Lingkungan keluarga yang memberikan rasa aman dapat mendukung perkembangan kemampuan sosial dan emosional secara lebih sehat.
Apabila anak mulai menunjukkan perilaku kasar secara berulang, orang tua disarankan tidak langsung merespons dengan hukuman yang lebih keras. Langkah awal yang dapat dilakukan adalah mencari tahu situasi yang memicu kemarahan dan membantu anak mengenali emosinya. Orang tua juga perlu mengevaluasi kebiasaan komunikasi di rumah serta memperhatikan kemungkinan pengaruh lingkungan pertemanan. Jika perilaku agresif semakin sering terjadi atau mengganggu kegiatan sehari-hari, konsultasi dengan psikolog anak dapat menjadi pilihan. Pendampingan profesional dapat membantu keluarga memahami penyebab perilaku sekaligus menyusun strategi pengasuhan yang lebih sesuai.
Dengan demikian, pola asuh VOC memang berpotensi meningkatkan risiko anak meniru perilaku kasar, terutama apabila kekerasan menjadi bagian dari interaksi sehari-hari. Namun, hubungan tersebut tidak bersifat mutlak karena perkembangan perilaku anak dipengaruhi berbagai faktor. Orang tua perlu membedakan antara ketegasan yang bertujuan mendidik dan tindakan keras yang justru menimbulkan rasa takut. Pengasuhan yang menggabungkan aturan jelas, komunikasi terbuka, kasih sayang, dan keteladanan dapat membantu anak membangun kedisiplinan secara lebih sehat. Melalui pendekatan tersebut, anak diharapkan mampu mengembangkan empati, tanggung jawab, serta kemampuan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.