Jakarta, 19 September 2026 – Iran selama beberapa dekade membangun hubungan dengan berbagai kelompok bersenjata di Timur Tengah sebagai bagian dari strategi keamanan dan pengaruh regionalnya. Jaringan tersebut mencakup kelompok dengan latar belakang dan kepentingan berbeda, termasuk Hezbollah di Lebanon, sejumlah kelompok bersenjata di Irak, kelompok Palestina serta Houthi di Yaman. Dukungan Teheran dapat berbentuk pendanaan, pelatihan, teknologi, intelijen maupun persenjataan, meski tingkat hubungan Iran dengan masing-masing kelompok tidak sama. Strategi ini berkembang terutama setelah Revolusi Iran 1979 dan kemudian diperluas melalui Pasukan Quds dari Korps Garda Revolusi Islam Iran. Teheran menggambarkan jaringan tersebut sebagai bagian dari poros perlawanan terhadap Israel dan kehadiran Amerika Serikat di kawasan. Bagi Iran, hubungan dengan kelompok-kelompok itu juga menjadi instrumen untuk memperluas kemampuan pertahanan jauh dari wilayahnya sendiri.
Salah satu alasan utamanya adalah konsep pertahanan ke depan, yakni menghadapi ancaman sebelum mencapai wilayah Iran. Pengalaman perang Iran-Irak pada 1980-an turut membentuk pandangan keamanan Teheran mengenai pentingnya memiliki kedalaman strategis di luar perbatasannya. Dengan mempunyai mitra bersenjata di Lebanon, Irak, Suriah dan Yaman, Iran dapat memberikan tekanan kepada lawannya dari berbagai arah tanpa selalu harus mengerahkan militernya secara langsung. Strategi tersebut juga membuat biaya politik dan militer dari sebuah konfrontasi berbeda dibandingkan perang terbuka antarnegara. Israel dan Amerika Serikat menjadi dua pihak yang paling sering disebut Iran sebagai ancaman strategis. Pada saat bersamaan, persaingan kekuatan dengan negara-negara Arab tertentu turut membentuk kebijakan regional Teheran.
Hubungan Iran dengan Houthi berkembang dalam konteks perang dan ketidakstabilan politik di Yaman. Houthi berasal dari gerakan Zaydi di Yaman dan memiliki agenda domestik sendiri sehingga tidak tepat dipandang semata-mata sebagai organisasi yang sepenuhnya dikendalikan Iran. Namun, hubungan kedua pihak semakin erat ketika konflik Yaman berkembang dan koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi militer pada 2015. Iran kemudian dikaitkan dengan pemberian dukungan teknologi, pelatihan dan komponen persenjataan yang membantu meningkatkan kemampuan rudal serta drone Houthi. Teheran secara resmi membantah sejumlah tuduhan mengenai pengiriman senjata yang melanggar embargo internasional. Meski demikian, berbagai penyitaan persenjataan dan temuan internasional selama bertahun-tahun menunjukkan adanya hubungan militer yang signifikan antara Iran dan Houthi.
Posisi geografis Yaman membuat hubungan tersebut memiliki nilai strategis besar bagi Iran. Houthi berada dekat Arab Saudi sekaligus memiliki akses menuju Laut Merah dan kawasan Bab al-Mandab, salah satu jalur pelayaran penting dunia. Kemampuan Houthi menggunakan rudal dan drone memungkinkan kelompok tersebut memberikan tekanan terhadap sasaran yang berada jauh dari wilayah kekuasaannya. Kondisi itu memberikan Iran mitra regional yang dapat memengaruhi keamanan jalur perdagangan dan energi tanpa harus menempatkan pasukan reguler Iran dalam jumlah besar di Yaman. Perkembangan kemampuan Houthi dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan bagaimana kelompok lokal dapat berkembang menjadi kekuatan yang memiliki pengaruh regional. Namun, Houthi tetap mempunyai kepentingan politik sendiri di Yaman dan tidak selalu dapat dianggap bertindak berdasarkan perintah langsung Teheran.
Pola serupa terlihat dalam hubungan Iran dengan kelompok-kelompok lain, meskipun karakter setiap hubungan berbeda. Hezbollah menjadi mitra Iran yang paling lama dan memiliki hubungan ideologis serta militer yang sangat erat dengan Teheran. Di Irak, Iran membangun hubungan dengan sejumlah kelompok bersenjata setelah invasi Amerika Serikat pada 2003 dan kemudian memperkuat kerja sama ketika kelompok ISIS berkembang. Hubungan Iran dengan kelompok Palestina menunjukkan bahwa pertimbangan Teheran tidak semata-mata didasarkan pada kesamaan mazhab keagamaan. Kepentingan bersama dalam menghadapi Israel dan menentang pengaruh Amerika Serikat dapat menjadi faktor yang lebih menentukan. Karena itu, jaringan tersebut lebih tepat dipahami sebagai kumpulan mitra dengan tingkat ketergantungan dan kebebasan bertindak yang berbeda-beda.
Strategi membangun jaringan kelompok bersenjata memberikan Iran kemampuan memperluas pengaruh dengan biaya yang relatif lebih rendah dibandingkan membangun kehadiran militer konvensional di seluruh kawasan. Namun, pendekatan tersebut juga membawa risiko besar karena tindakan satu kelompok dapat memicu pembalasan dan meningkatkan ketegangan yang melibatkan Iran secara langsung. Konflik yang meluas juga dapat mengganggu perdagangan, pelayaran dan pasokan energi internasional, terutama ketika aktivitas militer mencapai Laut Merah maupun Teluk Persia. Iran memandang jaringan mitranya sebagai bagian dari kemampuan pencegahan terhadap lawan, sedangkan Amerika Serikat, Israel dan sejumlah negara kawasan melihatnya sebagai sumber ancaman keamanan. Perbedaan pandangan tersebut menjadi salah satu akar persaingan geopolitik yang terus membentuk Timur Tengah. Selama rivalitas Iran dengan Israel dan Amerika Serikat tetap berlangsung, jaringan kelompok bersenjata regional kemungkinan akan terus memiliki posisi penting dalam strategi keamanan Teheran.