Jakarta, 2 Mei 2026 – Cuaca panas ekstrem yang belakangan terjadi di sejumlah wilayah disebut dapat berdampak pada keseimbangan hormon dalam tubuh manusia.
Para ahli kesehatan menjelaskan bahwa suhu tinggi dapat memicu stres fisik, yang kemudian memengaruhi produksi hormon. Kondisi ini dapat berdampak pada berbagai fungsi tubuh, mulai dari metabolisme hingga suasana hati.
Paparan panas berlebih dapat meningkatkan hormon stres seperti kortisol. Jika berlangsung dalam waktu lama, kondisi ini dapat menyebabkan kelelahan, gangguan tidur, hingga penurunan daya tahan tubuh.
Selain itu, cuaca panas juga dapat memengaruhi keseimbangan hormon yang berkaitan dengan sistem reproduksi. Pada beberapa orang, kondisi ini bisa menyebabkan perubahan siklus atau ketidaknyamanan fisik.
“Tubuh harus bekerja lebih keras untuk menjaga suhu tetap stabil, dan ini memengaruhi sistem hormonal,” ujar seorang ahli kesehatan.
Dehidrasi yang sering terjadi saat cuaca panas juga dapat memperburuk kondisi tersebut. Kekurangan cairan dalam tubuh dapat mengganggu fungsi organ dan memperlambat proses pemulihan.
Masyarakat diimbau untuk menjaga asupan cairan, menghindari paparan sinar matahari berlebihan, serta memastikan waktu istirahat yang cukup.
Pengamat kesehatan menilai bahwa perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem perlu diantisipasi dengan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan.
Langkah sederhana seperti mengenakan pakaian yang nyaman, berada di tempat teduh, serta menjaga pola makan sehat dapat membantu tubuh beradaptasi dengan kondisi panas.
Dengan memahami dampak cuaca ekstrem terhadap tubuh, masyarakat diharapkan dapat lebih waspada dan menjaga keseimbangan kesehatan secara keseluruhan.